PUASA YANG HAKIKI
**Puasa yang Hakiki**
Puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan belajar menerima lapar itu sendiri. Ia adalah seni menciptakan jeda. Ketika dorongan untuk makan dihentikan, tubuh akan bereaksi—seolah berdemo. Namun, tujuan dari jeda itu bukan melawan, melainkan menyaksikan gejolak tersebut hingga perlahan menjadi hening.Hening itulah tujuan memberi jeda makan.
Cobalah saat rencana mau pergi tiba-tiba batal.atau mau ketemu seseorang tiba tiba tidak ketemu. Beri ruang sejenak. Amati reaksi dalam diri yang mungkin memberontak, hingga akhirnya mereda. Saat muncul dorongan untuk menulis, berhentilah sejenak. Hadirkan jeda, dan saksikan apa yang bergerak di dalam batin. Bukan tidak makan selamanya, tidak pergi selamanya tidak nulis selamanya, tapi memberikan jeda. Agar kita memahami. Bahkan dalam momen yang paling intens sekalipun, ketika dorongan sexs mencapai puncaknya, berhenti sejenak di detik akhir sebelum klimaks dan perhatikan—ada energi yang bergejolak, menuntut untuk diluapkan atau di keluarkan. Jika engkau mampu menyaksikannya hingga tenang tanpa keluar, di situlah kendali sejati hadir.inilah TANTRA.
Latihan ini berguna saat berkaitan dengan uang. Saat punya ide bisnis muncul banyak rancangan ekspektasi dan jika itu gagal kita biasa saja. Tidak shock depresi dll. Saat mau Terima uang tiba tiba di undur atau tidak jadi. Saat kehilangan uang saat kena tipu dll pada akhirnya kita jadi biasa saja.
Latihan ini sederhana, namun mendalam: tidak langsung bertindak saat keinginan muncul. Tidak jadi pergi ketika ingin pergi. Tidak jadi menulis ketika ingin menulis. Tidak segera makan saat lapar. Tidak serta-merta mengikuti dorongan, apa pun bentuknya. Dalam jeda itulah kesadaran tumbuh.begitu semua telah hening barulah pergi barulah nulis barulah makan dll. Setelah melewati fase jeda.
Hal ini terjadi pada jalaluddin rumi. Disaat ia dipuncak jatuh cinta pada gurunya Syams Tabriz tiba tiba gurunya menghilang untuk selamanya. Terpukul yg sangat dalam.
Kesadaran sejatinya sederhana. Ia hadir ketika seseorang mampu menyaksikan, tanpa larut dalam riuhnya batin. Dalam keheningan itulah kejernihan muncul—dan dari sanalah kebebasan sejati berakar.

Posting Komentar