CARA AKU MENGALAMI MENILAI DAN MENYADARI PENILAIAN TERHADAP ORANG LAIN
![]() |
| cara aku mengalami menilai di dalam |
Menyadari sedang ada yang menilai
Malam ini aku sedang berbincang dengan seseorang yang sudah beberapa saat aku kenal. Aku menyadari ada perubahan cara aku merasakan kehadirannya dibanding sebelumnya.
Dulu ketika aku belum mengenalnya secara langsung, aku hanya berinteraksi lewat tulisan. Aku hanya punya data dari apa yang ia tulis. Di situ kesadaranku terasa lebih sederhana, lebih jernih. Aku tidak membawa banyak identitas tentang siapa dia. Aku hanya menerima apa yang disampaikan. Tidak ada tambahan cerita di dalam kepalaku.
Hanya pengalaman yang ditangkap langsung, tanpa banyak lapisan penilaian.
Aku merasakan sesuatu dari tulisan itu, semacam energi yang mengalir, tanpa harus tahu siapa orangnya. Yang ada hanya pesan, hanya pengalaman yang ditangkap langsung, tanpa banyak lapisan penilaian.
Tapi ketika aku mulai mengenal lebih jauh, bertemu, dan tahu lebih banyak tentang sosoknya, sesuatu berubah di dalam diriku.
Mulai muncul lebih banyak pikiran. Lebih banyak penilaian. Lebih banyak perbandingan. Aku tidak hanya mendengar apa yang disampaikan, tapi juga mulai menilai siapa yang menyampaikan.
Di titik itu, aku melihat sesuatu yang menarik. Semakin banyak aku mengenal identitas seseorang, semakin banyak lapisan di dalam kepalaku yang ikut bergerak. Dan semakin itu terjadi, kejernihan yang dulu aku rasakan menjadi sedikit tertutup oleh riuhnya pikiran karna banyaknya penilaian label.
Seakan-akan, identitas membuat kesadaran menjadi lebih padat. Lebih penuh. Tidak lagi hanya menerima, tapi mulai menilai.
Menerima dan Mulai Menilai
Aku berpikir apakah karna ini suami tidak mudah mendengarkan istri tapi lebih mudah menilai. Istri mudah menilai suami daripada mendengarkan.
Nampaknya lebih mudah percaya orang lain yg tidak begitu dikenal daripada kata kata pasangan. Meski kalimatnya sama.
Aku mulai memahami mengapa dalam banyak pengalaman batin, ketika sesuatu tidak diberi terlalu banyak label, ia terasa lebih murni. Lebih langsung. Lebih dekat dengan apa adanya.
Seolah-olah ketika identitas belum terlalu masuk, yang tersisa hanyalah pengalaman itu sendiri.Tapi ketika identitas masuk, yang muncul adalah cerita tentang pengalaman itu.
Di titik ini aku mulai mengamati cara pikirku sendiri bekerja. Aku melihat bagaimana pikiran langsung bereaksi: ini siapa, dia seperti apa, dia benar atau salah, cocok atau tidak.
Semua itu terjadi sangat cepat. Hampir tanpa sadar.
Aku lalu mengambil jeda di dalam diriku sendiri. Jeda untuk tidak langsung mengikuti arus penilaian itu. Jeda untuk melihat saja apa yang sedang terjadi di dalam.
Di jeda itu aku mulai melihat bahwa yang berisik sebenarnya bukan orangnya, tapi pikiranku sendiri yang sedang menambahkan cerita akibat banyak data yg sudah masuk di kepala tentang orang itu.
Yang aku dengar tetap sama. Yang aku lihat tetap sama. Tapi cara aku mengalaminya menjadi berbeda karena identitas yang kubawa di dalam diriku berubah.
Di satu titik aku juga teringat bahwa ini seperti cara kerja pikiran secara umum. Semakin banyak data tentang seseorang, semakin banyak pula ruang untuk menilai. Dan semakin banyak menilai, semakin sulit untuk benar-benar hanya mendengar.
Tidak seharusnya membawa orangnya terlalu dominan di dalam kepala, tapi melihat langsung isi yang muncul.
Semua hanyalah kesadaran yang berlabel.
Dari situ aku mulai mengerti bahwa yang berubah bukan realitas di luar, tapi kejernihan di dalam cara melihat.
Aku tidak sedang kehilangan kemampuan memahami. Aku hanya sedang melihat bagaimana identitas bisa membuat pengalaman menjadi lebih padat oleh interpretasi.
Mungkin saja Ini nyambung dengan cerita Sang Buddha yang pernah mengajar muridnya dengan membelakangi muridnya dan menghadap tembok. sehingga Sang Buddha tidak melihat Siapa yang bertanya tapi isi pertanyaan dari muridnya. yang dilihat hanyalah getaran pertanyaannya bukan siapa yang bertanya
ini untuk membuat lebih jernih pandangan batin.
Dan ada satu cerita lagi tentang bagaimana malaikat azazil atau iblis tidak mau bersujud dengan Adam Karena yang dilihat adalah identitasnya yang lemah yang baru yang terbuat dari tanah tidak melihat hakikat dari Adam adalah nur dari Tuhan itu sendiri.

Posting Komentar